Portal Bangsa SUMENEP — Komitmen dalam meningkatkan keselamatan ibu dan bayi terus diperkuat oleh RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep.
Rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Sumenep itu menegaskan bahwa tenaga bidan memiliki peran luar biasa sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan, khususnya di wilayah kepulauan yang memiliki tantangan geografis cukup berat.
Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. Erliyati, menyampaikan bahwa bidan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak karena hadir langsung di tengah masyarakat sejak masa kehamilan, persalinan, hingga masa nifas.
“Bidan menjadi salah satu elemen penting dalam menekan angka kematian ibu dan bayi. Mereka hadir langsung di tengah masyarakat dan berperan sejak awal proses kehamilan sampai masa nifas,” ujar dr. Erliyati, Jumat (15/05/2026).
Menurutnya, keberadaan bidan di Kabupaten Sumenep memiliki nilai strategis yang sangat besar mengingat wilayahnya didominasi kawasan kepulauan dengan akses layanan kesehatan yang masih terbatas di sejumlah daerah.
Dalam banyak kondisi, bidan bahkan menjadi tenaga kesehatan pertama sekaligus harapan utama masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara cepat dan aman.
“Di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan, bidan sering menjadi ujung tombak pelayanan. Karena itu penguatan kapasitas dan pemerataan tenaga bidan sangat penting,” ungkapnya.
dr. Erliyati menegaskan, pengabdian para bidan tidak hanya sebatas membantu proses persalinan.
Lebih dari itu, para bidan juga memiliki peran besar dalam memberikan edukasi kesehatan, pendampingan psikologis kepada ibu hamil, hingga membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak sejak dini.
Pendekatan humanis yang dilakukan para bidan dinilai menjadi kekuatan tersendiri dalam menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para ibu selama menjalani masa kehamilan hingga persalinan.
“Peran bidan bukan hanya tindakan medis, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat agar lebih siap menghadapi kehamilan dan persalinan dengan aman,” katanya.
Ia juga menilai tantangan pelayanan kesehatan ibu dan anak ke depan akan semakin kompleks, sehingga peningkatan kualitas sumber daya manusia bidang kebidanan harus terus diperkuat.
Karena itu, pihaknya mendorong adanya sinergi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat untuk mendukung pemerataan tenaga bidan hingga ke pelosok kepulauan.
“Ke depan perlu ada upaya bersama untuk meningkatkan kompetensi serta distribusi tenaga bidan agar pelayanan kesehatan ibu dan anak semakin optimal,” tegasnya.
Momentum Hari Internasional Bidan, lanjut dr. Erliyati, menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan menekan angka kematian ibu dan bayi tidak terlepas dari dedikasi para bidan yang bekerja tanpa lelah di lapangan.
“Keselamatan ibu dan bayi sangat bergantung pada peran besar para bidan. Mereka adalah pahlawan kesehatan yang hadir paling dekat dengan masyarakat,” pungkasnya.






