Pengamat Ingatkan Bupati Fauzi dalam Memilih Plt Sekda agar Pemerintahan Kondusif

  • Whatsapp
Ilustrasi kursi panas Sekda Sumenep (Dok. Istimewa)

Portal Bangsa, Sumenep – Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Wiraraja Madura, Wilda Rasaili, mengingatkan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, untuk mempertimbangkan secara matang dalam menunjuk Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah (Plt. Sekda) setempat.

Peringatan ini disampaikan menyusul beredarnya rumor kuat yang menyebut Kepala Dinas Pendidikan setempat, Agus Dwi Saputra, sebagai calon potensial, sebuah nama yang tidak lepas dari berbagai kontroversi.

Bacaan Lainnya

Wilda menegaskan, penunjukan Plt. Sekda bukan hanya perkara administratif belaka, melainkan keputusan strategis yang akan menentukan stabilitas dan konsentrasi pemerintahan ke depan.

“Bupati harus mempertimbangkan secara matang figur yang akan ditunjuk. Konsekuensinya, soal stabilitas bisa tidak stabil, konsentrasi akan terganggu. Sebab, sejak proses hingga ia menjabat, ia akan terus disorot oleh publik,” tegas Wilda, Senin (25/8).

Rekam Jejak Kontroversial

Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Agus membantah tegas rumor penunjukannya.

“Sampai detik ini, tidak ada. Itu hoaks,” ujarnya, Senin (25/8).

Meski menyangkal, sebagai ASN, ia menyatakan kesiapannya untuk menerima segala tugas yang diberikan.

Namun, publik dan pemerhati birokrasi justru menyoroti rekam jejak Agus yang dianggap problematik.

Sebelum memimpin Dinas Pendidikan, masa jabatannya sebagai Kepala Disperindak (2019-2021) diwarnai kegagalan menyelesaikan sengketa pembangunan Pasar Batuan senilai Rp 9,5 miliar.

Pengangkatannya sebagai Kadisdik pada 2021 juga memantik protes akibat tuduhan ketidakkompetenan dan lemahnya grand design pendidikan.

Berbagai isu negatif, termasuk pengadaan buku ajar dan PKBM fiktif, turut mewarnai kepemimpinannya.

Pilihan untuk Stabilitas

Lebih lanjut, Wilda menekankan, dalam penentuan Plt. Sekda, pentingnya menunjuk sosok yang tidak rentan menimbulkan kontroversi dan isu negatif di mata publik.

“Perbedaannya fundamental. Jika sosok itu bersih, maka masyarakat hanya akan menagih kinerjanya. Berbeda dengan yang kontroversial, publik justru akan menyoroti rekam jejaknya,” tegasnya.

Dengan demikian, lanjut Wilda, pilihan Bupati Fauzi kelak tidak hanya akan mencerminkan komitmennya terhadap good governance, tetapi juga menjadi penentu kondusifitas pemerintahan daerah.

“Situasi ini tentu akan menjadi tantangan berat bagi Bupati,” tandas Wilda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *