Dinkes P2KB Sumenep Perkuat Poskestren Nurud Dzolam Dasuk, Dorong Pesantren Budayakan Hidup Sehat 

  • Whatsapp

Portal Bangsa SUMENEP – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep terus memperkuat upaya peningkatan kesehatan di lingkungan pondok pesantren.

Langkah tersebut dilakukan melalui kegiatan Pendampingan Pondok Pesantren Nurud Dzolam Dasuk, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Dinkes P2KB Sumenep untuk mendorong pondok pesantren memiliki lingkungan yang sehat sekaligus mampu menjalankan upaya kesehatan secara mandiri.

Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas santri, santri husada, pendamping Puskesmas Dasuk, serta pengurus pondok pesantren.

Kegiatan dilaksanakan oleh Tim Promosi Kesehatan (Promkes) Dinkes P2KB Sumenep bersama tim Promkes, Poskestren dan bidan desa Puskesmas Dasuk.

Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, drg. Ellya Fardasah, M.Kes., mengatakan lingkungan pondok pesantren harus menjadi bagian penting dalam gerakan peningkatan kesehatan masyarakat.

“Pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat para santri menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kami ingin lingkungan pesantren benar-benar mendukung kesehatan, kebersihan, dan tumbuh kembang para santri,” kata drg. Ellya Fardasah.

Menurutnya, penguatan Pos Kesehatan Pesantren atau Poskestren menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kemampuan pesantren dalam melakukan pencegahan dan deteksi dini terhadap berbagai persoalan kesehatan.

“Kami mendorong Poskestren agar tidak hanya ada secara kelembagaan, tetapi benar-benar aktif menjalankan fungsi promotif dan preventif.

Santri husada juga kami harapkan menjadi penggerak perilaku hidup sehat di lingkungan pesantren,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan hasil Survei Mawas Diri (SMD) sebagai dasar untuk melihat kondisi dan berbagai persoalan kesehatan yang ada di lingkungan pondok pesantren.

Hasil SMD kemudian dibahas melalui Musyawarah Masyarakat Pondok Pesantren (MMPP).

Forum tersebut menjadi ruang bagi pengurus, santri, serta pendamping kesehatan untuk bersama-sama menentukan persoalan prioritas dan langkah penyelesaiannya.

Dinkes P2KB Sumenep juga mendorong agar hasil musyawarah dituangkan dalam Rencana Tindak Lanjut (RTL) sehingga setiap kesepakatan dapat dilaksanakan dan dipantau.

“Kami ingin hasil survei dan musyawarah tidak berhenti di atas kertas.

Harus ada tindak lanjut yang jelas dan bisa dilaksanakan oleh pihak pesantren bersama pendamping kesehatan,” ujar drg. Ellya.

Salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut adalah kesehatan santriwati melalui pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD sekaligus mencegah anemia pada remaja putri.

“Kepatuhan mengonsumsi Tablet Tambah Darah harus terus ditingkatkan.

Pencegahan anemia pada remaja putri merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mereka sejak sekarang sekaligus mempersiapkan kesehatan mereka di masa depan,” tegasnya.

Selain itu, peserta mendapatkan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan pondok pesantren.

Edukasi tersebut diarahkan agar para santri mampu menerapkan kebiasaan hidup sehat, menjaga kebersihan diri, serta ikut menjaga lingkungan pondok agar tetap bersih dan nyaman.

Pendampingan juga mendorong pesantren agar mampu melakukan inspeksi kesehatan lingkungan secara mandiri.

Langkah tersebut penting untuk meningkatkan kemampuan warga pesantren dalam mengenali potensi risiko kesehatan di lingkungan mereka.

Sementara itu, skrining Tuberkulosis (TBC) serta skrining dan edukasi kesehatan jiwa juga menjadi bagian dari upaya deteksi dini.

drg. Ellya mengatakan perhatian terhadap kesehatan jiwa tidak kalah penting dibandingkan kesehatan fisik.

“Kami ingin pendekatan kesehatan di pesantren dilakukan secara menyeluruh. Kesehatan fisik, kesehatan lingkungan dan kesehatan jiwa semuanya harus mendapatkan perhatian.

Deteksi dini akan membantu kita melakukan pencegahan dan penanganan lebih cepat,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan Puskesmas Dasuk, pengurus pondok pesantren, santri husada, serta para santri dalam kegiatan tersebut.

“Kolaborasi antara pesantren dan tenaga kesehatan seperti ini sangat penting. Kami berharap sinergi ini terus berjalan sehingga budaya hidup sehat benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para santri,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *