Portal Bangsa SUMENEP – Laut Masalembu kembali menjadi saksi kekhidmatan tradisi tahunan Rokat Tase atau Petik Laut yang digelar warga Desa Masalima, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Rabu (17/9). Ribuan warga tumpah ruah, menyatu dalam iring-iringan adat yang penuh warna dan makna.
Sejak pagi, suasana desa telah semarak. Ibu-ibu berkebaya merah tampak anggun membawa tumpeng di atas kepala, sementara anak-anak mengenakan pakaian adat dengan wajah sumringah. Rombongan bergerak menuju balai desa, tempat rangkaian doa, zikir, dan puji-pujian bersama digelar.
Usai doa bersama, ritual dilanjutkan dengan mengarak sebuah perahu hias menuju laut lepas. Di sana, sesaji berupa tumpeng, hasil bumi, dan seekor ayam dilepaskan ke samudra. Prosesi ini menjadi simbol rasa syukur atas rezeki laut sekaligus doa keselamatan bagi para nelayan.
Mashudi, salah satu nelayan setempat, menyebut tradisi ini sebagai warisan leluhur yang tidak pernah ditinggalkan.
“Kegiatan ini bertujuan untuk menjemput berkah dari langit dan mendapat rezeki yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Tradisi Rokat Tase bukan sekadar seremoni budaya, tetapi juga momentum kebersamaan. Warga dari berbagai usia dan latar belakang berkumpul, bahu-membahu menyiapkan hidangan dan prosesi ritual.
Anggota DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath, yang turut hadir, menyebut Rokat Tase sebagai simbol gotong royong sekaligus ketangguhan nelayan Masalembu.
“Kegiatan ini sudah tumbuh berkembang melampaui segala musim dan badai yang menguji ketahanan para nelayan. Tradisi ini bukti nyata bahwa masyarakat pesisir selalu bersyukur sekaligus menjaga harmoni dengan alam,” tuturnya.
Rokat Tase di Masalembu tak hanya mempertegas identitas budaya lokal, tetapi juga memperlihatkan kearifan masyarakat pesisir dalam menjaga tradisi sekaligus memohon keselamatan dari Sang Pencipta.
“Laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ruang spiritual yang selalu dirawat dengan doa dan syukur,” pungkasnya.






